“Orang sering berpikir bahwa bahan bakar nabati atau biofuel hanyalah soal ‘energi ramah lingkungan’. Namun, makna sebenarnya lebih dari itu. Bagi negara seperti Indonesia, biofuel adalah menyangkut ketahanan energi – bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang sudah kita punya, seperti kelapa sawit dan infrastrukturnya, untuk membangun solusi yang berkelanjutan dan strategis,” jelas Pak Hariyadi Imam Santoso, General Manager for Biodiesel Commercial di Sinar Mas Agribusiness and Food.
Seiring meningkatnya kekhawatiran tentang perubahan iklim dan kebutuhan global akan alternatif untuk bahan bakar fosil, biofuel — terutama biofuel berbasis sawit — makin mendapatkan perhatian. Biofuel memiliki sifat terbarukan, dapat ditingkatkan skalanya, dan telah diadopsi secara luas di Indonesia melalui amanat wajib tingkat nasional, seperti B40.
Jadi, persisnya bagaimanakah biofuel dibuat dari minyak kelapa sawit? Apa yang membedakannya dari bahan bakar fosil — dan tantangan apa yang masih ada? Mari kita simak uraiannya berikut ini.
Apa itu biofuel? Memahami solusi energi terbarukan

Biofuel adalah jenis bahan bakar yang terbuat dari bahan organik — biasanya tanaman, limbah agrikultur, atau minyak goreng bekas. “Tidak seperti bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas dan memerlukan waktu jutaan tahun dalam pembentukannya, biofuel dapat diproduksi, dirafinasi, dan digunakan dalam siklus yang berkelanjutan,” jelas Pak Hariyadi.
Ada dua jenis utama biofuel:
- Biofuel generasi pertama — terbuat dari tanaman pangan, seperti minyak kelapa sawit, jagung, atau tebu.
- Biofuel generasi kedua — terbuat dari biomassa nonpangan, seperti residu kegiatan agrikultur atau limbah aktivitas kehutanan.
Tahukah Anda?
Produktivitas per hektar minyak kelapa sawit 4-10 kali lebih tinggi dibanding minyak kedelai, minyak bunga matahari, atau minyak rapa — sehingga menjadikannya salah satu bahan baku biofuel paling efisien secara global.
Minyak kelapa sawit memainkan peran utama dalam biofuel generasi pertama karena produktivitas minyaknya yang tinggi per satu hektar lahan, sehingga lahan yang diperlukannya lebih sedikit dibanding tanaman lain.
Bagaimana minyak kelapa sawit digunakan untuk menghasilkan biofuel?
“Pembuatan biodiesel sedikit mirip dengan rafinasi minyak goreng, tetapi proses kimia yang berlangsung berbeda. Kami menggunakan proses yang disebut trans-esterifikasi,” lanjut Pak Hariyadi. Reaksi kimia ini melibatkan pencampuran CPO dengan alkohol (biasanya metanol) dengan bantuan katalis. Hasilnya adalah Metil Ester Asam Lemak (Fatty Acid Methyl Esters/FAME) — nama kimia biodiesel — dan gliserin sebagai produk sampingannya.
Sederhananya: Minyak nabati/kotoran hewan + alkohol (metanol/etanol) = Biodiesel dan Gliserin.
Tonton video berikut untuk gambaran visual dan langkah demi langkah dari proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biodiesel:
Manfaat biofuel berbasis sawit
Biofuel dari kelapa sawit memiliki sejumlah keunggulan — baik dari segi lingkungan maupun ekonomi.
Emisi gas rumah kaca (GRK) neto yang lebih rendah
Walaupun emisi pembakarannya mirip dengan bahan bakar fosil, biofuel kelapa sawit menghasilkan emisi GRK neto yang lebih rendah jika dilihat dari siklus prosesnya secara keseluruhan — mulai dari budidaya penanaman, pengolahan, hingga pengangkutan dan penggunaan. Jika dihasilkan dari perkebunan yang berkelanjutan, biofuel dapat mengurangi emisi siklus prosesnya hingga 60% dibanding bahan bakar fosil konvensional.
Efisiensi energi yang tinggi
Minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas dengan tingkat produktivitas energi tertinggi per hektar lahan, sehingga menjadikannya bahan baku yang mudah ditingkatkan skala pemanfaatannya untuk negara dengan keterbatasan lahan.
Bahan bakar terbarukan yang mudah digunakan
Biofuel berbasis sawit sudah diproduksi dan diadopsi dalam skala besar. Berkat infrastruktur yang mendukung dan rantai pasok yang kuat, biofuel berbasis sawit menjadi salah satu bahan bakar terbarukan yang paling mudah diperoleh dan digunakan di pasaran.
Mendukung ekonomi sirkular
Biofuel berbasis sawit mendukung model ekonomi sirkular yang memanfaatkan setiap bagian dari buah kelapa sawit — mengurangi limbah, menghasilkan pendapatan bagi masyarakat pedesaan, dan menciptakan sumber energi tambahan di luar biodiesel itu sendiri, seperti biomassa cangkang inti sawit.
Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil
Biofuel yang diproduksi secara lokal mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Biofuel mendiversifikasi komposisi energi nasional dan memberikan ketahanan di saat terjadi gangguan pada pasokan global — keunggulan strategis bagi tiap negara pengimpor energi.
Menyingkap tantangan: Apakah biofuel kelapa sawit benar-benar berkelanjutan?


T: Apa tantangan terbesar dalam memproduksi biofuel yang berkelanjutan?
Hariyadi: Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan permintaan energi terbarukan dengan kebutuhan untuk melindungi serta melestarikan hutan dan sistem pangan. Produksi biofuel — jika tidak dikelola dengan baik — dapat menyebabkan penggundulan hutan, perubahan tata guna lahan, dan tekanan pada lahan pertanian. Ada juga tantangan dalam menjaga kemamputelusuran, pelibatan peran petani kelapa sawit, dan memenuhi standar keberlanjutan yang terus berkembang.
Kami di Perusahaan menangani risiko ini dengan menegakkan kebijakan Tanpa Deforestasi, Tanpa Gambut, dan Tanpa Eksploitasi (No Deforestation, No Peat, and No Exploitation/NDPE) yang ketat serta mendukung skema sertifikasi, seperti ISPO dan ISCC. Kami juga menjalin kerja sama erat dengan petani kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas panen di lahan yang ada tanpa memperluas kegiatan hingga ke wilayah hutan.
T: Bagaimana Perusahaan menghadapi perdebatan pangan vs bahan bakar?
Hariyadi: Minyak yang digunakan dalam biofuel sering kali merupakan kelebihan yang tidak cocok untuk pangan. Selain itu, solusi mengubah limbah menjadi energi seperti pemanfaatan cangkang kelapa sawit dapat mengurangi ketergantungan pada minyak nabati sepenuhnya. Walau demikian, tantangan sebenarnya adalah menyeimbangkan tata guna lahan secara efektif — sesuatu yang diupayakan melalui kerja sama erat dengan petani.
T: Bukankah bahan bakar fosil masih lebih efisien dan lebih mudah diproduksi?
Hariyadi: Kendati bahan bakar fosil memiliki peran yang dominan selama beberapa dekade, bahan bakar ini memiliki biaya lingkungan yang tinggi. Saat ini, biofuel berbasis sawit tidak hanya memenuhi persyaratan kelayakan secara komersial, tetapi juga semakin mendapatkan dukungan dalam strategi energi nasional. Ambil contoh mandat B40 Indonesia — yang mengharuskan semua solar yang dijual di negara ini mempunyai kandungan biodiesel 40%, yang sebagian besarnya berbasis sawit. Dukungan kebijakan semacam ini akan mempercepat efisiensi produksi, meningkatkan permintaan, dan membuktikan bahwa alternatif terbarukan dapat ditingkatkan skalanya — secara bertanggung jawab dan efektif.
T: Bagaimana Perusahaan menjamin transparansi dan kemamputelusuran pada rantai pasok biofuelnya?
Hariyadi: Kami telah menerapkan sistem kemamputelusuran terdepan di industri ini, sehingga kami mampu menelusuri minyak kelapa sawit hingga ke tingkat pabrik dan kebun. Perusahaan kami juga telah mengadopsi SmartTrace, sistem kemamputelusuran berbasis blockchain yang memberikan visibilitas ke tiap tahap rantai pasok, dari perkebunan lalu pemrosesan hingga pengiriman. Tingkat kemamputelusuran ini membantu kami membangun kepercayaan, memenuhi standar keberlanjutan, dan membuktikan bahwa biofuel kami diadakan dari sumbernya secara beretika, bertanggung jawab, dan tanpa deforestasi.
Masa depan biofuel

Seiring negara-negara berupaya mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon, biofuel terbukti penting di berbagai sektor — mulai dari transportasi dan industri hingga pembangkitan listrik dan struktur pemakaian energi. Biofuel juga membantu menyeimbangkan jaringan listrik yang semakin banyak menggunakan tenaga surya dan angin, dengan kesiapan untuk menggantikan peran sumber energi tersebut saat terjadi fluktuasi pasokan.
Yang patut digarisbawahi, biofuel menawarkan salah satu jalur paling realistis untuk melakukan dekarbonisasi pada sektor-sektor yang sulit dikurangi emisi karbonnya, mis. angkutan jarak jauh, penerbangan, dan industri berat, seperti baja, semen, dan kimia, yang belum memungkinkan penyediaan listrik dari biofuel sepenuhnya.
Kami di Perusahaan meyakini bahwa biofuel berbasis sawit berperan penting dalam transisi energi global ini. Dengan kebijakan yang kuat seperti mandat B40 Indonesia, teknologi baru, dan sistem seperti SmartTrace yang mendukung transparansi rantai pasok secara penuh, industri ini berkembang dengan cepat — dan bertanggung jawab.
“Biofuel mungkin bukan satu-satunya jawaban, tetapi merupakan bagian penting dari solusinya. Ini adalah solusi yang sudah berjalan untuk mendorong energi bersih serta membantu industri bergerak menuju masa depan rendah karbon,” tutup Pak Hariyadi.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kami percaya bahwa minyak kelapa sawit merupakan pendorong kuat untuk pemanfaatan energi terbarukan. Itulah sebabnya kami memproduksi bioenergi berbasis sawit sebagai bagian dari komitmen Perusahaan untuk masa depan energi yang lebih berkelanjutan. Baca selengkapnya inisiatif kami di tautan ini.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang











