
Sebelumnya: Business Development Manager di GAR Singapura
Sejak Jul 2025: AVP – Business Development and Strategic Planning
“Saya tiba di Belanda di tengah musim dingin – hanya empat jam sinar matahari sehari, bahasa yang tidak saya kuasai, dan tidak kenal siapa pun selain rekan kantor,” kenang Yash Mavani. “Tiga bulan kemudian, COVID-19 melanda. Tiba-tiba, saya bersama tim kecil harus memastikan seluruh bisnis tetap berjalan di tengah gangguan rantai pasokan global.”
Dalam beberapa bulan setelah bergabung dengan Perusahaan, beliau membantu membangun kembali bisnis oleokimia di Eropa dari nol. Hanya dengan dua rekannya, beliau menangani segala hal mulai dari mengamankan gudang hingga mengelola kontrak komersial, sembari menjembatani budaya dan membangun kepercayaan dengan tim yang tersebar di berbagai benua.
Yang terjadi selanjutnya adalah pembelajaran kilat tentang ketangguhan, kreativitas, dan seni berbisnis lintas negara. Pelajaran-pelajaran itulah yang membentuk perjalanan kariernya dari Business Development Manager menjadi Assistant Vice President hanya dalam beberapa tahun.
Tak seperti yang dibayangkan – namun sesuai yang beliau butuhkan

“Saya awalnya tidak berniat untuk terjun ke bidang oleokimia,” aku Yash. “Saya ingin lebih memahami bisnis komoditas fisik.”
Setelah lulus kuliah dengan gelar Ekonomi dan Keuangan, Yash bergabung dengan Perusahaan untuk pekerjaan purnawaktu pertamanya. Beliau tidak secara khusus mengincar sektor oleokimia; beliau mencari peluang untuk mendalami perdagangan global. Yang beliau temukan ternyata jauh melampaui harapannya. Keterlibatan langsung dengan oleokimia membawa manfaat yang luar biasa, memberinya pengalaman dalam organisasi berbasis aset dan operasional pengiriman.
“Bahkan baru beberapa bulan bekerja, kepercayaan besar sudah diberikan kepada lulusan baru seperti saya,” kenang Yash. “Pihak manajemen selalu terbuka untuk berdiskusi tentang tujuan atau melakukan pembelajaran mendalam.”
Pengalaman belajar jalur cepat itu membuka jalan bagi langkah besar berikutnya: pindah ke Eropa. Perusahaan sedang membangun kembali bisnis oleokimianya di sana, dan Yash ditunjuk untuk misi tersebut.
Babak baru Eropa: Dari disrupsi menuju arah baru

Pada akhir tahun 2019, Yash tiba di Belanda untuk membantu membangun kembali bisnis oleokimia GAR di Eropa. Tantangan ini berisiko tinggi dan membutuhkan waktu.
Setelah GAR Jerman tutup, sebuah tim kecil dibentuk untuk membangun kembali bisnis oleokimia di Eropa: Yash, bersama seorang pimpinan komersial dan seorang spesialis logistik. Bersama-sama, mereka tidak sekadar menjaga kelangsungan bisnis. Mereka membangunnya dari nol, langkah demi langkah.
“Rasanya menyenangkan sekaligus menegangkan,” tutur Yash. “Menyenangkan karena pekerjaan dan negara baru. Menegangkan karena saya harus pindah lagi, membangun kehidupan di negara lain tanpa kenal siapa pun.” Tekanan untuk memulai kembali terasa sangat besar.
Prioritas mereka sederhana: “memastikan kami tidak melewatkan satu pun komitmen terhadap pelanggan yang sudah ada,” paparnya.
Secara profesional, Yash dengan cepat mengadopsi gaya “langsung, ayo kita selesaikan”. Beliau memulai dari nol dengan satu tujuan: membangun kembali bisnis oleo. Semua itu dilakukannya sambil menjelajahi negara dan bahasa baru, serta guncangan musim dingin yang hebat setelah tumbuh besar di Singapura yang cerah.
Tim menghadapi tantangan setiap hari. Mereka dengan cepat membangun operasi dan komunikasi yang efektif. Dengan latar belakang Belanda, Spanyol, dan Singapura/Asia, “kami harus belajar bekerja sama dan saling memahami dengan cepat.” Selain itu, ada “begitu banyak hal yang harus dipikirkan”, lanjut Yash, mulai dari keuangan dan biaya hingga gudang dan peluang komersial. Mereka harus “bertanya ke berbagai pihak, beradaptasi dengan praktik terbaik, dan belajar”.
Lalu, tiga bulan kemudian, COVID-19 melanda. “Kami tiba-tiba harus mengelola rantai pasok yang benar-benar terganggu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Komunikasi yang intensif menjadi krusial agar tetap terhubung. “Kami hanya perlu bertindak cepat berdasarkan ide-ide cemerlang guna mengatasi kekacauan itu.”
Tantangan seperti bea anti-dumping makin menambah kerumitan. Namun, pola pikir mereka tetap teguh: beradaptasi, jangan berhenti. “Kami tidak punya semua jawabannya, tetapi selalu siap untuk bertindak.”
Yang awalnya dimulai sebagai pembenahan telah menjadi peluncuran ulang. Proses tersebut mendefinisikan kembali cara Perusahaan mendukung pelanggan: dengan kejelasan, ketangguhan, dan pendekatan praktis yang manusiawi untuk menyelesaikan masalah sulit.
Lintas zona waktu, lintas budaya: Bisnis yang menjembatani dunia

Membangun kembali bisnis saja sudah cukup sulit. Melakukannya lintas negara, zona waktu, dan budaya kerja? Sudah pasti butuh sesuatu yang lebih.
Menghubungkan rantai pasok yang membentang dari Indonesia ke Singapura hingga Belanda berarti menjembatani tidak hanya jarak, tetapi juga gaya komunikasi dan norma budaya.
“Di Asia, ada banyak konteks di balik setiap pesan,” jelasnya. “Di Eropa, terutama di Belanda, yang terpenting adalah kejelasan dan keterusterangan. Sementara, di Spanyol mengutamakan hubungan. Orang ingin tahu siapa diri Anda sebelum berbisnis.”
Beliau tidak menghindari perbedaan-perbedaan tersebut. Justru, mengelolanya menjadi keterampilan tersendiri. Yash belajar menyesuaikan percakapan, mendengarkan dengan saksama, dan memastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama. “Intinya adalah mengenal orang lain dan bersikap tulus.”
Bekerja dalam tim yang ramping juga mengubah cara Yash mengambil keputusan, “Saya belajar memercayai insting dan penilaian saya sendiri,” ujarnya. “Dalam tim yang lebih besar, ada banyak lapisan dukungan. Dalam tim yang ramping, kita sering kali memegang peran ganda dan harus mengembangkan kekuatan pengambilan keputusan kita sendiri.”
Pelajaran dari titik tersulit
Bagi Yash, beberapa tahun terakhir tidak hanya membentuk cara beliau bekerja, tetapi juga caranya memandang bisnis, kepemimpinan, dan pertumbuhan itu sendiri.
“Saat baru mulai, saya pikir strategi itu hanya tentang menghasilkan uang,” kenangnya. “Sekarang saya melihatnya secara berbeda. Strategi yang baik menghubungkan segalanya: keuangan, operasional, keberlanjutan, dan manusia. Dan jika tidak mempertimbangkan bagaimana implementasinya, strategi itu hanyalah kata-kata di atas kertas.”
Beliau mengaitkan pertumbuhannya dengan satu pola pikir penting: tetap ingin tahu. “Saya berusaha untuk tidak menerima segala sesuatu begitu saja,” ujarnya. “Saat Anda ingin tahu, Anda belajar lebih banyak. Saat belajar lebih banyak, Anda terhubung dengan lebih baik. Begitulah cara kemajuan terwujud.”
Kini menjadi bagian dari tim Business Development & Strategic Planning di GAR Singapura, Yash membawa pola pikir itu ke panggung yang lebih besar, membangun peluang di seluruh perusahaan.
Jangkauan Perusahaan didukung oleh orang-orang yang membangun dengan tujuan. Jelajahi bagaimana tim global kami memberikan nilai tambah bagi mitra di seluruh dunia. Lihat kembali refleksi Yash di tahun 2018 tentang 25 tahun perjalanan Sinar Mas Oleochemicals di sini.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang