“Kamu memungut sampah?” tanya seseorang kepada Bu Siti. “Tidak,” jawab Bu Siti sambil tersenyum. “Aku mengumpulkan perubahan sedikit demi sedikit.”
Itulah momen “Aha!” bagi Bu Siti Rohani, otak di balik Bank Sampah Kijang di Kampar, Riau. Sosok perempuan yang mengajak beliau bicara belum memahami pencemaran plastik, atau pemilahan sampah, atau dampak berantai dari satu botol daur ulang. Namun, Bu Siti memahaminya. Karena beliau telah mengalaminya sendiri.
Pencemaran plastik bukan sekadar masalah sampah yang mengapung di lautan yang jauh. Pencemaran plastik memengaruhi apa yang dimakan keluarga, cara anak-anak bermain, dan masa depan seperti apa yang dapat diharapkan oleh suatu desa.
Namun, bagaimana jika kita bisa membalikkan keadaannya? Bagaimana jika sampah plastik bukan gangguan, tetapi justru merupakan penyelamat?
Bank Sampah: Tempat di mana sampah menjadi berharga
![]()
Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kami mengangkat kisah para pahlawan tanpa tanda jasa di balik salah satu inisiatif akar rumput Sinar Mas Agribusiness and Food yang paling berdampak: Bank Sampah.

> 9,000 kilogram sampah dialihkan dari tempat pembuangan akhir

350+ keluarga terlibat dalam kegiatan ini dan menerima pelatihan terkait
Dimulai pada tahun 2022 dengan dua lokasi proyek percontohan di Riau, Bank Sampah dibangun berdasarkan ide sederhana namun radikal yaitu bahwa sampah bukanlah barang tak bernilai. Keyakinan tersebut telah memberdayakan lebih dari 350 keluarga, mengalihkan lebih dari 9.000 kilogram plastik, kertas, dan logam dari tempat pembuangan akhir (TPA), dan memicu perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah sehari-hari.
Memang, ini adalah soal bersih-bersih. Namun, lebih dari itu, perkara ini juga tentang membangun ketahanan, kepercayaan diri, dan pendapatan.
Ambil contoh Kijang Estate di Riau. Ketika pertama kali dimulai di sana, tidak semua orang yakin bahwa program ini akan berhasil. Membawa sampah seperti setor uang di bank? Rasanya ganjil. Namun, perlahan-lahan, masyarakat mulai memahami bahwa hal itu bukan sekadar soal daur ulang. Itu adalah perkara merebut kembali kendali atas lingkungan, kesehatan, dan masa depan kita.
“Tidak hanya mengambil sampah, kami juga mengajarkan nilai kehidupan,” ungkap Bu Siti.
Seperti banyak pengurus Bank Sampah lainnya, Bu Siti juga menyelenggarakan lokakarya, mengajari keluarga peserta program tentang sampah yang memiliki potensi ekonomi, dan memotivasi mereka untuk terus semangat – bahkan ketika pemilahannya terasa melelahkan atau karung yang dikumpulkan masih ringan.
“Kadang-kadang, orang datang hanya dengan membawa setengah kilo sampah,” kata beliau. “Atau, mereka belum memilahnya dengan benar. Namun, kami tetap menerimanya. Karena setidaknya mereka sudah berusaha. Dan begitulah suatu perubahan itu bermula.”

Mengapa ini penting — kini, lebih dari sebelumnya
Secara global, hanya 9% sampah plastik yang pernah didaur ulang. Sisanya? Menyumbat sungai, mencemari lahan, dan meresap ke dalam rantai makanan. Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, #BeatPlasticPollution, mengingatkan kita tentang betapa mendesaknya permasalahan ini.
Itulah sebabnya Bank Sampah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar – kerangka kerja keberlanjutan Collective for Impact kami dan kontribusi langsung terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 12.5.1, yang berfokus pada perbaikan tingkat daur ulang nasional dan mempromosikan ekonomi sirkular.
Dengan mendorong orang untuk memilah sampah di rumah, mengumpulkan bahan yang bisa didaur ulang, dan melihat sampah sebagai sumber daya, program ini membantu Perusahaan makin mendekati pencapaian target sirkularitas dan pengurangan sampah kami:
Mengurangi sampah plastik di TPA hingga 20% di 27 unit Upstream pada tahun 2030
Mengurangi plastik yang dikirim ke TPA hingga 50% di operasi Upstream pada tahun 2040
Mengurangi sampah kemasan pascakonsumsi dari Downstream yang dikirim ke TPA hingga 30% pada tahun 2030
Mengurangi sampah kemasan pascakonsumsi dari operasi Downstream yang dikirim ke TPA hingga 50% pada tahun 2040
Akan tetapi, tujuan dan kerangka kerja hanyalah salah satu sisi dari perjalanan ini. Mesin perubahan yang sebenarnya adalah figur seperti Bu Siti yang bekerja tak kenal lelah setiap hari dan membuat komunitas mereka terus maju untuk mewujudkannya.

Dari akar rumput menuju masa depan yang lebih hijau
Di kawasan perumahan di seluruh kebun kami di Riau, botol plastik bukan lagi sekadar sampah. Botol plastik dapat menjadi uang sekolah, minyak goreng, dan bahkan tabungan. Mereka adalah bukti bahwa tindakan kecil yang konsisten mampu membentuk masa depan yang lebih bersih dan penuh harapan.
Dan kami tidak berhenti di sini.
Saat ini Perusahaan sedang berupaya untuk melipatgandakan partisipasi masyarakat di seluruh Riau dalam dua tahun ke depan. Artinya, meningkatkan pelatihan, memperkuat jaringan pengumpulan sampah lokal, dan mempermudah keluarga dalam memilah, menyimpan, dan mendaur ulang sampah di tempat tinggal mereka.
Sebagaimana diungkapkan Serafina Tri Suprapti Rahayu, Head of Circular Economy kami:
“Bank Sampah memberdayakan masyarakat dengan gagasan bahwa perubahan tidak harus bermula dari hal besar. Cukup dimulai dari apa yang Anda buang hari ini, dan apa yang Anda pilih untuk lakukan dengannya besok.”
Tanya Jawab Umum (FAQ)
Mengurangi sampah hanyalah salah satu dari komitmen Perusahaan terhadap produksi yang bertanggung jawab. Cari tahu bagaimana kami berupaya mengurangi jejak karbon di seluruh kegiatan operasional Perusahaan di sini.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang