Mampukah alam menjaga dirinya sendiri?
Di tengah hamparan kebun kelapa sawit, mungkin Anda akan terkejut saat mendapati bahwa sebagian agen pengendali hama terbaik tidak berasal dari botol pestisida, melainkan dari yang berbulu, bersayap, atau berbunga.
Di Sinar Mas Agribusiness and Food, kami mengubah cara pandang dalam mengelola hama. Alih-alih sepenuhnya mengandalkan bahan kimia semata, kami membangun sistem pertahanan alami yang terdiri dari burung hantu yang berburu di malam hari, serangga pembunuh yang memangsa ulat, dan tanaman berbunga yang menarik serangga predator maupun yang membantu proses penyerbukan.
Inilah yang disebut Pengendalian Hama Terpadu (Integrated Pest Management/IPM): pendekatan lebih cerdas dan berkelanjutan yang bekerja sama dengan alam, bukan melawannya. Hasilnya? Tanaman lebih sehat, penggunaan bahan kimia berkurang, dan ekosistem lebih hidup – yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan kebun itu sendiri.
Berikut sebagian kecil sekutu alami kami yang secara diam-diam namun efektif membantu menjaga perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.
1. Bunga pukul delapan/lidah kucing (Turnera subulata): Magnet penarik serangga bermanfaat

Sengaja ditanam di sekitar tepi area kebun kelapa sawit, Turnera subulata (berbunga putih), Turnera ulmifolia (berbunga kuning), dan Antigonon leptopus berfungsi sebagai penarik alami bagi serangga bermanfaat. Bentuk bunga ini menjadikannya tempat yang tepat untuk berteduh, sementara nektarnya yang berada di luar bunga menyediakan makanan bagi berbagai jenis serangga predator. Pada gilirannya, serangga ini membantu mengendalikan populasi hama bertubuh lunak seperti kutu daun dan ulat.
“Bunga ini lebih dari sekadar tanaman hias,” jelas Bu Dian Nurul Izzati, Entomologist dari SMART Research Institute (SMARTRI). Beliau adalah bagian dari tim entomolog yang berperan dalam memahami dan meningkatkan jasa ekosistem di kebun kami – mulai dari pengendalian hama alami hingga penyerbukan. “Bunganya yang kaya nektar mendukung populasi predator seperti Sycanus dan parasitoid yang biasanya tidak ada di lanskap monokultur. Bunga ini membantu menciptakan ekosistem yang lebih seimbang.”
Spesies Turnera – baik yang putih maupun kuning – umumnya ditanam di sekitar lahan Perusahaan sebagai bagian dari strategi refugia (menarik kehadiran hewan bermanfaat) kami – dengan menjaga populasi predator serta mengurangi kebutuhan akan semprotan kimia.
2. Kepik predator (Sycanus sp): Pembunuh ulat api
Dengan moncong tajam menusuk yang disebut rostrum, Sycanus sp. adalah predator alami yang efisien. Serangga ini memangsa hama bertubuh lunak seperti ulat pemakan daun – termasuk ulat jelatang, ulat kantong, dan kutu putih – yang termasuk penggerus utama dedaunan yang mengancam kelangsungan hidup tanaman kelapa sawit. Kepik predator tidak hanya menyerang, tetapi juga melumpuhkan mangsanya. Setelah ditusuk, tubuh mangsa akan hancur dari dalam, sehingga memudahkan serangga ini untuk memakannya.
“Jenis kepik ini diam-diam mematikan,” lanjut Bu Dian. “Sycanus sp. berperan besar dalam mencegah timbulnya wabah hama, terutama di pohon kelapa sawit muda tempat ulat bisa menimbulan kerusakan paling berat.”
Dengan umur panjang dan potensi reproduksi yang tinggi, Sycanus dapat berkembang pesat di lapangan selama beberapa bulan dan mengeluarkan puluhan butir telur. Hal ini menjadikan kepik ini solusi pengendalian hama berkelanjutan dan mampu meremajakan populasinya, terutama di daerah yang dengan penggunaan bahan kimia yang dibatasi atau tidak dianjurkan.
3. Burung hantu (Tyto alba): Penjaga malam di perkebunan

Di kesunyian malam, burung hantu terbang dengan penglihatan dan pendengaran yang sangat baik – berpatroli di lahan perkebunan untuk berburu tikus dan hewan pengerat lain yang mengancam tanaman kelapa sawit.
Di perkebunan kami, dapat dijumpai kotak-kotak yang dibuat dan dipasang khusus sebagai sarang burung ini di tiap sekitar 30 hektar untuk membantu pemburu alami ini menetap dan berkembang biak. Satu keluarga burung hantu dapat memakan lebih dari seribu tikus dalam setahun, sehingga menjadikannya salah satu langkah paling efektif dan berkelanjutan yang ada untuk mengendalikan hewan pengerat.
Dengan menjaga populasi burung hantu, perkebunan mendapatkan manfaat dari pengendalian hewan pengerat yang berkelanjutan dan berdampak rendah pada lingkungan, tanpa tergantung pada bahan kimia.
4. Bacillus thuringiensis: Mikroba sekutu kami

Tidak semua pembela kami di perkebunan adalah serangga atau hewan – salah satunya berupa organisme mikroskopis. Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri tanah alami yang dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat kantong (Metisa plana), salah satu hama pemakan daun paling merusak di perkebunan kelapa sawit.
Saat tertelan larva, Bt melepaskan protein bernama Cry, yang menjadi racun di usus alkali si ulat sehingga menyebabkan mereka berhenti makan dan akhirnya mati.
Tidak seperti pestisida sintetis, Bt hanya menyasar kelompok hama tertentu dan tidak menyerang serangga lain yang bermanfaat. Hal ini menjadikannya pilihan ideal untuk area yang secara lingkungan sensitif atau perkebunan yang menerapkan pengelolaan hama bebas bahan kimia.
5. Antigonon: Tanaman refugia dengan tujuan tersendiri

Antigonon leptosus merupakan tanaman berbunga yang diberdayakan sebagai refugia – tanaman pendamping yang menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi serangga bermanfaat, seperti parasitoid dan serangga sayap jala. Bunga yang kaya nektar menarik musuh alami hama dan membantu mengatur populasi hama tanpa bahan kimia.
Tanaman ini sering ditanam di sepanjang tepi ladang atau kawasan konservasi, tempatnya dapat berbunga sepanjang tahun dan mendukung populasi serangga bermanfaat yang stabil – bahkan ketika hama yang ada tidak signifikan jumlahnya.
Selain peran ekologis, tanaman ini juga berfungsi sebagai tutupan lahan yang membantu mengurangi erosi dan meningkatkan kesehatan tanah.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Alam sudah tahu cara untuk mempertahankan diri – kami hanya belajar bekerja sama dengannya. Pelajari lebih lanjut cara kami menjalankan metode berkelanjutan di perkebunan Perusahaan dalam Laporan Keberlanjutan 2024.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang

