Bagi banyak orang, lahan gambut mungkin hanya terlihat seperti hamparan tanah basah. Namun, di balik permukaannya yang tampak sederhana, tersimpan sumber daya alam luar biasa yaitu ekosistem penting bagi pengelolaan air, keanekaragaman hayati, dan stabilitas iklim. Lahan gambut menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan seluruh hutan di dunia, sehingga menjadikannya salah satu sekutu alami yang paling kuat dalam melawan perubahan iklim.
Namun, ketika lahan gambut dikeringkan, dibakar, atau dibuka, karbon yang tersimpan itu terlepas ke atmosfer, dan berubah dari aset menjadi ancaman lingkungan. Di sinilah kami berperan. Kami secara aktif berupaya memperbaiki kerusakan ini dengan membasahi kembali, menanami kembali, dan merevitalisasi lahan penting ini agar dapat terus mendukung kehidupan generasi mendatang.
Bergabunglah dengan Head of Nature-Based Solutions kami, Pak Gilang Moehammad Nugraha, yang menjelaskan pentingnya ekosistem gambut dan upaya restorasi yang sedang dilakukan Perusahaan untuk memulihkan ekosistem terdegradasi ini agar kembali menjadi lanskap penyimpan karbon yang subur dan mampu menyimpan karbon secara optimal.
Daftar Isi [tampilkan/sembunyikan]
Apa yang menjadikan lahan gambut istimewa?

Lahan gambut lebih dari sekadar lanskap berawa yang basah – lahan gambut merupakan ekosistem penting dengan manfaat yang jauh melampaui apa yang terlihat. Sebagai reservoir alami, lahan gambut membantu mengatur aliran air, mencegah banjir, dan menjaga kualitas air untuk area sekitarnya. Lahan gambut juga memberikan tempat perlindungan bagi spesies langka dan terancam punah, dengan menyediakan habitat yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di Bumi.
Berapa banyak permukaan Bumi yang tertutup lahan gambut?
“Lahan gambut berfungsi sebagai penyimpan karbon dalam skala besar, yang membantu mengurangi perubahan iklim dengan mengunci karbon di dalam tanahnya yang jenuh air. Namun, sifatnya yang rapuh membuatnya rentan terhadap degradasi, yang dapat mengubahnya menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan,” jelas Gilang.
Kapasitas penyimpanan karbon yang luar biasa pada gambut menegaskan perannya sebagai penstabil iklim alami. Namun, aktivitas manusia seperti pengeringan, pembukaan, dan pembakaran lahan dapat mengganggu keseimbangan alaminya, yang berujung pada dampak lingkungan yang merugikan.
Bagi kami, melindungi dan melestarikan lahan gambut adalah prioritas utama. Sejak tahun 2010, kami berkomitmen pada kebijakan Nol Deforestasi dan Tidak Membangun di Lahan Gambut, yang memastikan bahwa kami tidak mengembangkan lahan di atas tanah gambut, berapa pun kedalamannya. Komitmen ini makin diperkuat pada tahun 2015 melalui penerapan Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) secara resmi, yang memperkuat dedikasi kami untuk menjaga ekosistem tak tergantikan ini untuk masa depan.
Tahap demi tahap pemulihan lahan gambut
Memulihkan lahan gambut yang terdegradasi merupakan proses terperinci yang memerlukan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kerja sama masyarakat setempat. Di Perusahaan, perjalanan ini mengikuti kerangka kerja 3R atau Rewetting, Revegetation, and Revitalisation (pembasahan kembali, revegetasi, dan revitalisasi) – sebuah pendekatan holistik untuk menghidupkan kembali ekosistem yang rapuh ini sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang bergantung padanya.
1. Rewetting: Mengembalikan air ke lahan gambut


Langkah pertama dalam restorasi adalah pembasahan kembali (rewetting), yaitu mengembalikan kembali keseimbangan air ke lahan secara alami. Lahan gambut yang dikeringkan kehilangan kemampuannya menahan air, sehingga rentan terhadap kebakaran dan dekomposisi, yang melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.
Untuk mengatasi hal ini, Perusahaan merehidrasi lahan gambut dengan menaikkan permukaan airnya secara berkesinambungan. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia menetapkan standar minimum muka air tanah di -40 cm di bawah permukaan. Kami melampaui persyaratan ini dengan memperluas upaya rewetting dan menjaga level air lebih tinggi dari standar minimum. Pendekatan proaktif ini melembapkan lahan gambut, menurunkan risiko kebakaran serta emisi karbon, dan mendukung upaya restorasi jangka panjang maupun penyimpanan karbon.

Tahukah Anda seberapa besar upaya rewetting lahan gambut dapat mengurangi risiko kebakaran di situ?
2. Revegetasi: Mengembalikan kehijauan alami


Begitu tingkat permukaan air lahan gambut stabil, langkah selanjutnya adalah mengembalikan vegetasi. Revegetasi dilakukan melalui pengenalan kembali spesies asli yang cocok dengan kondisi lahan gambut. Tanaman ini berperan penting dalam menstabilkan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan mempercepat pemulihan ekosistem.

Proses revegetasi yang dilaksanakan Perusahaan dimulai dengan survei untuk mengidentifikasi spesies yang tepat untuk area tersebut. Lahan gambut terbuka atau semak belukar dipersiapkan agar kondusif untuk ditanami, dan spesies asli diperkenalkan guna meniru ekosistem alaminya. Saat tumbuh, tanaman menarik satwa liar untuk kembali ke area tersebut hingga secara bertahap memulihkan keseimbangan ekologi.
3. Revitalisasi: Memberdayakan masyarakat lokal


Upaya restorasi tidak hanya meremajakan lahan gambut, tetapi juga mendukung masyarakat yang menggantungkan penghidupan padanya.
Kami melakukan upaya revitalisasi seiring penciptaan mata pencaharian berkelanjutan bagi penduduk setempat. Hal ini membantu memastikan bahwa masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari lahan gambut yang telah dipulihkan, tetapi juga berperan aktif dalam pelestariannya.
Di banyak daerah, masyarakat lokal berkontribusi langsung pada proses restorasi, seperti menanam bibit untuk revegetasi atau mengelola pembibitan. Perusahaan bekerja sama erat dengan masyarakat guna mengembangkan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan sesuai dengan lingkungan setempat, seperti ekowisata dan proyek-proyek berbasis masyarakat lainnya. Inisiatif ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk melindungi ekosistem penting ini bagi generasi mendatang.

“Tujuan kami adalah memastikan agar masyarakat dapat memahami arti penting konservasi. Ketika mereka terlibat langsung dan merasakan manfaat dari proses ini, upaya restorasi dapat berjalan secara mandiri,” jelas Pak Gilang.
Kisah dari lapangan: Membangkitkan kembali lahan gambut di Kalimantan Barat dan Jambi

Komitmen kami terhadap restorasi gambut bukan sekadar janji, tetapi diwujudkan melalui tindakan yang terukur dan berdampak. Bekerja sama dengan mitra utama, Perusahaan telah melakukan revegetasi pada lebih dari 1.600 hektar lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Barat dan Jambi, sehingga tercipta zona penyangga penting sebagai pelindung ekosistem di sekitarnya.
Di Kalimantan Barat, kami menerapkan rencana pengelolaan air komprehensif untuk menjaga agar gambut tetap basah dan mencegah kebakaran di musim kemarau. Dengan upaya yang berkelanjutan, Perusahaan menargetkan penyelesaian fase rehabilitasi gambut saat ini di wilayah tersebut pada tahun 2025.
Di Jambi, proses rehabilitasi terus berlanjut. Target kami adalah memulihkan lahan gambut terdegradasi seluas 2.191 hektar, dengan tahap awal rehabilitasi lahan seluas 750 hektar direncanakan akan selesai pada tahun 2027.
“Melalui pemetaan cermat dan kolaborasi dengan masyarakat, kami menunjukkan bahwa bahkan gambut yang terdegradasi parah pun bisa direhabilitasi dengan strategi dan komitmen yang tepat,” ungkap Pak Gilang.
Kegiatan manakah yang melepaskan jumlah karbon paling banyak dari lahan gambut?

Proyek restorasi ini telah menunjukkan hasil nyata:

Berkurangnya Kebakaran
Lahan gambut yang direstorasi berisiko lebih kecil mengalami kebakaran pada musim kemarau sekalipun, sehingga mengurangi risiko lingkungan yang besar.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Vegetasi asli telah mengembalikan habitat kritis, mendukung kembalinya berbagai jenis flora dan fauna.

Penurunan Emisi Karbon
Dengan mengurangi dekomposisi gambut, upaya ini berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi Scope 1 Perusahaan.
Mengapa ini penting
Restorasi gambut bukan hanya tentang menyelamatkan lahan – ini adalah langkah nyata dalam melawan perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati, dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Pada Hari Lahan Basah Sedunia ini, mari kita pahami peran penting lahan gambut dan kebutuhan mendesak untuk melindunginya.
Pelajari lebih lanjut upaya rehabilitasi gambut Perusahaan di tautan ini.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang