menu bar
close-grey

Yang kita beri menentukan yang kita kembangkan: Pelajaran dari kerja kemitraan

Posted: Mar 04, 2026 6 minute read SMART 4 Likes

Atika Luthfiyyah

Saat berbicara tentang kemitraan, kita sering berpikir tentang surat persetujuan pendanaan bersama dan kontrak. Namun, bagi Atika Luthfiyyah, bukan itu inti kerja kemitraan.

Atika memandang kemitraan terjalin melalui percakapan yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Dalam menindaklanjuti ketika belum ada perkembangan. Dalam memilih untuk bergeming ketika hasil akhir belum jelas.

Sebagai Partnership Specialist di PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART), Atika bekerja di antara banyak bidang sekaligus: tim bisnis, mitra eksternal, dan kelompok lapangan. Seiring waktu, beliau memahami bahwa hasil yang diharapkan jarang terwujud secara bersamaan. Hasil bertumbuh sesuai dengan apa yang diberikan secara konsisten dan cermat.

Menemukan makna melalui pengalaman

Atika tidak pernah merencanakan karier di bidang kemitraan. Pengalaman kerja beliau meliputi bidang pengadaan, LSM, pendanaan, dan konsultan dampak. Pada saat itu, setiap bidang kerja beliau memang terasa bermanfaat, tetapi terpisah-pisah.

Menengok ke belakang, beliau menyadari bahwa pengalaman kerja tersebut membentuk pendekatan beliau terhadap masalah di masa kini.

Finding meaning through experience
Dalam sesi pameran kelulusan fellowship beliau, Atika memaparkan proyek yang melibatkan kalangan LSM, pemerintahan, bisnis, dan kelompok masyarakat.

Satu momen yang menentukan adalah saat beliau menjadi peserta pelatihan manajemen bidang pengadaan. Saat itu beliau ditugaskan bertemu petani – bukan untuk membahas angka, melainkan untuk memahami kendala yang dihadapi.

“Saya ingat saat mendengarkan petani menceritakan harapan dan pergulatan hidup mereka,” kenang beliau. “Saat itulah saya tersadarkan bahwa di balik setiap label harga dan hasil panen, ada seseorang yang berusaha membangun kehidupan yang lebih baik.”

Momen itu mengubah pemahaman beliau tentang dampak. Lebih dari sekadar angka, dampak menjadi berkaitan dengan mata pencaharian. Bertahun-tahun kemudian, saat memasuki bidang kemitraan, sudut pandang itu tetap ada dalam dirinya. Peran dalam kemitraan memungkinkan beliau berada dalam situasi pengambilan keputusan sekaligus dalam realitas sehari-hari. Hal itu menyatukan bagian-bagian pengalaman kerja yang sebelumnya terasa terpisah.

“Saya pikir-pikir, inilah jawaban atas pencarian saya selama hampir sepuluh tahun.” kata Atika, “Rasa keterhubungan itulah yang membuat pekerjaan ini terasa bermakna,” tambahnya.

Bukan soal urusan administrasi

It’s not about the paperwork
Atika (tengah) di sebuah acara jejaring AVPN, saat perkenalan singkat untuk Head of Community Economic Empowerment, Irpan Kadir (kanan), memicu percakapan lebih mendalam tentang apa yang mungkin terjadi bila orang-orang lintas peran terhubung.

Kalau menengok meja kerja Atika, mungkin Anda akan melihat banyak berkas kontrak, anggaran, dan laporan. Tetapi, beliau akan segera mengatakan bahwa berkas-berkas itu bukanlah intinya. Kontrak hanyalah jejak dari sebuah proses panjang di mana orang-orang harus belajar untuk saling memercayai.

Beliau menggunakan banyak waktu mendorong rekan sejawat untuk melihat hingga melampaui hambatan yang biasa dihadapi. Salah satu pertanyaan favorit beliau adalah, “Apa yang akan kita lakukan jika sumber daya bukanlah hal pertama yang perlu kita khawatirkan?”

“Pertanyaan itu mengubah energi di dalam ruangan,” jelas Atika. “Pertanyaan itu membuat kami berhenti mengkhawatirkan keterbatasan dan mulai membayangkan hal apa yang mungkin untuk dilakukan. Perubahan nyata dimulai ketika kita mengizinkan diri untuk bermimpi lebih besar.”

Bagaimana rasa percaya tumbuh, perlahan dan tak terduga

Bagi Atika, rasa percaya tidak bisa dipaksakan melalui sebuah tanda tangan. Rasa percaya bertumbuh perlahan dan sering kali tak terduga.

How trust grows, slowly and unexpectedly
Dari lensa Atika: Perempuan mengambil peran aktif selama sesi Sawit Terampil, sebagai tanda tumbuhnya kepercayaan dalam komunitas.

Salah satu contoh terbaik adalah terjalinnya kerja sama yang berawal dari sebuah pertanyaan sederhana yang dilontarkan Atika di sebuah forum online. Tidak ada proposal, juga tidak ada rencana penyusunan sebuah program. Tetapi, forum itu membuka percakapan dengan seorang pelanggan yang punya kekhawatiran serupa tentang praktik ketenagakerjaan. Setelah diskusi lanjutan selama beberapa bulan, mulailah tercapai keselarasan. Yang berawal dari dialog kemudian berkembang menjadi program transformasi dengan fokus pada hak asasi manusia bagi pemasok yang didukung pelanggan, yang diimplementasikan antara tahun 2024 dan tahun 2025.

“Kami tidak terburu-buru,” ujar beliau. “Selama berbulan-bulan kami sekadar datang, mengobrol, dan mengupayakan kesamaan pandangan. Kita harus sanggup mengikuti percakapan sekalipun belum yakin ke mana arahnya.”

Pendekatan yang penuh kesabaran ini, pada akhirnya membuahkan hasil diluar prediksi. Di Riau, SMART mendirikan percontohan balai penitipan anak (childcare) di satu lokasi yang berfokus pada peningkatan mutu pengasuhan anak usia dini dan tenaga pengasuh.

Tim Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat membawa pengetahuan tentang transformasi layanan penitipan anak ini kepada manajemen dan unit lain, sementara bidang kemitraan mengajak mitra eksternal yang dibutuhkan untuk meluncurkan uji coba tersebut. Pekerjaan itu berlanjut dan hasilnya semakin terlihat, minat pun tumbuh di banyak wilayah yang berdekatan. Sejumlah balai penitipan anak mulai mengadopsi pendekatan yang sama, dan anggota kelompok wanita Dharma Wanita ikut bergabung, menunjukkan rasa memiliki yang sejati di komunitas terkait.

Tahukah Anda?

Di masyarakat pedesaan, balai penitipan anak memainkan peran yang tidak mencolok tapi sangat penting. Itulah sebabnya SMART bermitra dengan organisasi seperti ADM Cares dan Tzu Chi Indonesia untuk memperkokoh pengasuhan anak usia dini di sekitar perkebunan kami.

Dengan lebih dari 300 balai penitipan anak di seluruh Indonesia, kemitraan ini berfokus pada pelatihan tenaga pengasuh, fasilitas yang lebih baik, dan dukungan belajar usia dini. Di Riau, yang awalnya dimulai sebagai proyek percontohan kecil, berkembang menjadi keterlibatan masyarakat lebih luas, hingga mencapai ratusan tempat penitipan serta meningkatkan kehidupan kaum perempuan dalam pekerjaan dan bermasyarakat.

“Saat memulai, kami tidak mengira perkembangannya akan seperti ini,” kenang Atika. “Tapi, begitulah indahnya memulai dari kecil. Kami fokus menjalankan pekerjaan kami dan membagi hasilnya sehingga memungkinkan masyarakat untuk memimpin. Melihat mereka mengadopsi pekerjaan ini sebagai pekerjaan mereka sendiri adalah bukti nyata rasa percaya.”

Atika juga menyaksikan rasa memiliki bersama itu selama keterlibatan beliau di lapangan dalam program Sawit Terampil. Beliau menyaksikan para wanita aktif terlibat dalam semua urusan, dari urusan administrasi hingga pekerjaan di lapangan.

“Tingkat partisipasi seperti itu tidak mungkin dituntut agar terwujud dalam waktu singkat,” imbuh beliau. “Partisipasi baru bisa terwujud bila orang merasa merekalah pemilik prosesnya. Menyaksikan para wanita memimpin bidang yang sebelumnya tidak pernah mereka tangani membuktikan bagi saya bahwa proses yang panjang dan kadang rumit dalam membangun relasi ini sepadan dengan hasilnya.”

Menatap ke depan: Warisan manusia

Bagi Atika, peluncuran Collective for Impact adalah tanda perubahan menjadi lebih baik. Itulah pergeseran dari melakukan apa yang ditentukan menjadi menetapkan sendiri arah dalam keberlanjutan.

“Tercipta ruang bagi kami untuk bernapas,” ujar Atika. “Kami tidak lagi sekadar melakukan apa yang harus kami lakukan. Kami bisa bekerja lebih leluasa, lebih berpikir cermat, dan lebih selaras dengan para mitra mengenai arah dan langkah kerja sama kami.”

Berpikir tentang sepuluh tahun ke depan, Atika ingin meninggalkan warisan yang lebih menyentuh bagi manusia.

“Saya ingin meninggalkan suatu cara kerja yang lebih dari sekadar KPI,” jelasnya. “Apabila kita bisa membuat hidup lebih mudah bagi pekerja lapangan – apabila tim kerja kita merasa terdukung dan komunitas lokal merasakan betul peningkatan dalam hidup keseharian mereka – Itulah kemenangan sesungguhnya bagi saya.”

Pada dasarnya, beliau berharap cara kerja yang lebih menyentuh manusia ini menjadi bukti bagi generasi berikutnya, terutama bagi kaum perempuan, bahwa bisnis dan kata hati dapat berjalan seiring.

“Saya ingin orang-orang percaya bahwa melakukan perubahan sungguh mungkin,” tegas beliau. “Apabila kita mendedikasikan diri dan mewujudkan relasi nyata dengan orang dan tanah tempat mereka hidup, maka perubahan yang langgeng tidak terelakkan.”

Wujud “memberi untuk mendapatkan” dalam kerja kemitraan #givetogain

Hari Perempuan Internasional 2026 mengajak kita merefleksikan bagaimana pertumbuhan terjadi apabila dukungan bersifat timbal balik. Dalam karya Atika, memberi terwujud dalam cara yang sederhana namun konsisten: waktu, kepercayaan, dan kemauan untuk tetap terlibat.

Tiga pilihan itu membantu kemitraan mengakar: membuka kemungkinan bagi kepemilikan bersama, kolaborasi yang lebih kokoh, dan hasil yang berdampak bagi semua yang terlibat.

Momen ini merupakan bagian dari kisah yang lebih menyeluruh tentang kemitraan di SMART. Simak kisah lain kami tentang bagaimana Perusahaan bekerja sama dengan mitranya dalam mengubah tujuan bersama menjadi dampak yang langgeng.

fb linkedin mail