
Irama kehidupan di Kelurahan Limbung, Bajeng, Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia, berjalan dalam ritmenya yang damai. Di sini, seolah semua penduduk saling kenal satu sama lain. Orang tua mengajarkan nilai kehidupan bukan lewat ceramah, melainkan lewat tindakan: menanam, memperbaiki, dan selalu hadir. Dan saat dewasa anak-anak membawa didikan itu dalam cara mereka berbicara, bekerja, dan bercita-cita.
Dari tempat inilah Muhammad Arham Hakim berasal, anak bungsu dari empat bersaudara, yang dengan ketekunan dan tekadnya melangkah jauh melampaui jalanan desa yang ia lalui setiap hari. Pada tahun 2025, ia lulus sebagai Sarjana Terbaik dari Beasiswa SMART, sebuah program beasiswa tahunan Sinar Mas Agribusiness and Food. Momen itu menjadi kebanggaan besar bagi kedua orang tuanya sekaligus membuka babak baru dalam hidupnya.
Kisahnya menunjukkan betapa nilai dan kepercayaan yang kuat pada pendidikan dapat membuka kesempatan bagi mereka yang berani bercita-cita.
Akar yang membentuk sebuah cita-cita
Arham senang bercerita bahwa dirinya dibesarkan oleh dua “guru” dengan pembawaan yang berbeda: kedisiplinan ayahnya dan kesabaran ibunya. Sang ayah, yang dulu bekerja di sektor swasta, mengajarinya arti menghargai waktu dan bertanggung jawab. Sementara ibunya, seorang guru taman kanak-kanak, menanamkan rasa ingin tahunya dan mendorongnya untuk berani bertanya.
“Saya dibesarkan oleh tangan-tangan pekerja keras,” kata Arham. “Perjuangan orang tua sayalah yang membuat saya bisa berada di titik ini sekarang.”
Dukungan orang tuanya lah yang membentuk pandangannya tentang dunia. Mereka hidup sederhana, namun penuh kehangatan. Nilai-nilai moral selalu menjadi yang utama, jauh sebelum nilai akademis dan penghargaan.
Satu prinsip masyarakat Sulawesi Selatan menjadi pedoman hidupnya: “Kualleanga Tallanga Natoalia,”– Lebih baik tenggelam daripada menyerah. Kalimat itu mengingatkannya untuk berdiri teguh setiap menghadapi tantangan.

Bahkan sedari kecil, ia sudah tahu apa yang bisa dicapai melalui sekolah. Melihat kakaknya masuk perguruan tinggi diam-diam menumbuhkan harapan di dalam dirinya. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama ia memutuskan: Ia ingin terus melanjutkan Pendidikan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi membuka lebih banyak peluang bagi keluarganya.
“Bagi saya, gelar lebih daripada selembar kertas,” katanya. “Gelar adalah keterampilan, peluang, dan kesempatan membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarga saya.”
Jalan setapak menuju peluang: Ketika ambisi bertemu dengan akses

Sebelum mendaftar ke program Beasiswa SMART, Arham sudah kuliah di sebuah kampus di Makassar sambil menjadi ketua sebuah organisasi kemasyarakatan tingkat kecamatan.
Suatu hari, saat sedang menyimak media sosial, perhatiannya terpaku pada halaman informasi tentang beasiswa. Postingan itu memperkenalkan beasiswa dari Sinar Mas Agribusiness and Food. Karena tertarik, ia mengklik postingan itu.
Dia mulai membaca informasi tentang program, fasilitas, dan pengalaman dari penerima beasiswa sebelumnya. Semakin banyak membaca, semakin dia paham. Beasiswa ini menawarkan lebih dari sekadar biaya kuliah. Yang ditawarkan mencakup bimbingan (mentoring), komunitas rekan sejawat (peer community), dan jalur langsung untuk masuk ke salah satu industri besar di Indonesia.
Dia pun mencoba mendaftar. Setiap putaran seleksi memiliki syarat masing-masing – dan semuanya harus dia sesuaikan dengan jadwalnya yang sudah padat:
- Registrasi dan tes psikologi online yang mensyaratkan dia membeberkan latar belakang, harapan/aspirasinya, dan menyelesaikan asesmen awal.
- Tes kemampuan akademis online untuk mengukur kemampuan analitis dan pemecahan masalah.
- Wawancara – percakapan untuk mengetahui lebih lanjut motivasi dan kesiapannya menjalani program.
- Pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dirinya sanggup menjalani kehidupan kampus sepenuhnya dan penugasan lapangan kelak.
“Minggu-minggu itu melatih manajemen waktu saya,” katanya. “Saya harus memenuhi agenda saya di Makasar sekaligus menyelesaikan setiap langkah seleksi dengan baik.”
Usahanya membuahkan hasil. Saat datang kabar bahwa dia diterima, perasaan lega dan syukur yang mendalam menyelimuti dirinya. “Saat menerima beasiswa, dunia saya rasanya semakin luas,” katanya. “Saya dapat melihat garis jelas yang mengantar saya dari kampung halaman ke industri tempat saya dapat berkontribusi.”
Tumbuh melalui tantangan dan belajar memimpin

Di ITSB (Institut Teknologi Sains Bandung) Arham memilih program studi Teknologi Pengolahan Sawit dengan peminatan manajemen perkebunan. Dia ingin berkontribusi pada sebuah industri yang berperan besar bagi perekonomian Indonesia dan menyediakan jutaan lapangan kerja.
“Minyak sawit menopang kehidupan bagi keluarga. Saya berharap pekerjaan saya dapat mendukung keberlanjutannya.”
Kegiatan di universitas memberinya tantangan segar. Agar dapat bertahan dalam kelompok mahasiswa sepuluh besar, dia membutuhkan disiplin kuat dan rasa bersaing dalam kompetisi yang sehat di dalam dirinya. Beasiswa ini juga mendorong keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, maka dia bergabung dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) KM-ITSB.
“Bergabung ke BEM membantu saya menyadari bahwa organisasi dapat menunjang proses belajar,” katanya. “Asalkan saya dapat mengatur waktu, organisasi menjadi tempat melatih kepemimpinan, bukan gangguan.”
Tesis akhir menjadi salah satu ujian terberat baginya. “Menyelesaikan tesis saya ibarat mengangkat beban berat,” kenangnya. “Melatih saya bersikap gigih dan berani meminta bantuan saat saya membutuhkannya.”
Saat hari wisuda tiba, dia menerima gelar Lulusan Terbaik ITSB tahun 2025. Dari atas panggung, pandangannya menelisik mencari sosok kedua orang tuanya di antara banyak hadirin. Pandangan mata mereka memancarkan rasa bangga.
“Saya merasa sangat bersyukur,” katanya. “Kegembiraan, kelegaan, emosi; semuanya bercampur jadi satu. Pencapaian saya ini berkat dukungan banyak orang, terutama orang tua saya dan tim Beasiswa SMART.”
Berjalan menuju masa depan yang dibangun dengan tujuan

Saat ini dia sedang menjalani pelatihan dalam program SMART Agro Assistant Agronomy. Pelatihan ini lebih mendekatkannya pada kehidupan perkebunan yang nyata, tempat dia dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas di kebun, pada pohon, dan dalam tim yang sesungguhnya.
Mimpinya merentang lebih jauh ke masa depan. Dia berharap untuk melanjutkan studi sampai tingkat sarjana dan pascasarjana. Dengan minat yang kuat dalam pengembangan sumber daya manusia, dia juga membayangkan karier jangka panjang dalam tim Learning and Development di Sinar Mas Agribusiness and Food, untuk mengarahkan generasi masa depan mahasiswa dan professional muda.
“Saya senang berbagi cerita dan memotivasi orang,” katanya. “Suatu saat nanti saya akan berdiri di hadapan generasi muda dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka pun bisa menggapai cita-cita mereka.”
Setiap mimpi tumbuh dengan kesempatan untuk belajar.
Pendidikan memberi orang muda ruang untuk berpikir lebih besar dan melangkah menuju masa depan mereka dengan keberanian. Pada Hari Pendidikan Internasional tanggal 24 Januari, kami merefleksikan bagaimana akses, bimbingan, dan keterampilan dapat membuka jalan ke depan.
Baca perjalanan tentang keberanian dan kesempatan belajar lainnya melalui kisah Syahrul dari Kapuas Hulu.
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang