Apa yang dibutuhkan untuk melindungi ribuan hektar hutan dari ancaman deforestasi?

Bagi Pak Oko Supajar, petugas pemantau hutan kami yang bertugas di Ketapang, Indonesia, perpaduan teknologi satelit canggih dan tindakan langsung di lapangan adalah jawabannya. Setiap hari, Pak Oko menghadapi tantangan untuk menjaga hamparan hutan yang luas – memastikan bahwa rantai pasok Perusahaan senantiasa bebas deforestasi selaras dengan prinsip-prinsip Nol Deforestasi, Gambut, dan Eksploitasi (No Deforestation, No Peat, and No Exploitation/NDPE) yang diterapkan dalam industri sawit.
Rutinitas harian beliau menggarisbawahi peran penting teknologi, kerja sama tim, dan respons cepat dalam mengambil langkah agar senantiasa terdepan dalam menghadapi ancaman deforestasi.
Memulai hari: Menetapkan prioritas dan merencanakan pengawasan
Hari-hari Pak Oko dimulai pagi-pagi sekali dengan memeriksa apakah terdapat notifikasi peringatan titik api atau penggundulan hutan melalui sistem GeoSmart Fire dan GeoSmart Trust.
Begitu mengidentifikasi potensi ancaman, Pak Oko berkoordinasi dengan jaringan rekan kerja beliau. “Tim lapangan segera melakukan inspeksi langsung di lokasi dan melaporkan temuan mereka di lapangan,” jelas Pak Oko.
Dengan ratusan hektar lahan yang harus dilindungi, memprioritaskan area di area konsesi Perusahaan menjadi hal yang krusial. “Memantau dan melindungi area ini sebagaimana ditegaskan dalam izin lingkungan Perusahaan adalah tanggung jawab kami,” beliau menambahkan.

Melihat dari udara: Pemantauan dari atas
“Data satelit adalah garis pertahanan pertama kami. Melalui perangkat seperti GeoSmart Fire, kami mampu mengetahui titik potensi risiko kebakaran atau deforestasi secara langsung, bahkan di daerah paling terpencil. Kemampuan memantau dari atas memberi kami keuntungan untuk melakukan respons cepat,” ungkap Pak Oko.
Pak Oko mengakui bahwa tidak setiap peringatan berarti benar-benar ada ancaman. Terkadang peringatan tersebut sekadar alarm palsu, seperti pantulan dari permukaan air atau atap logam. Itulah sebabnya beliau beserta tim tidak pernah hanya mengandalkan data satelit. Verifikasi lapangan sangat penting untuk memastikan adanya risiko nyata atau tidak.
Membaca data, memverifikasi peringatan
Begitu terdapat notifikasi peringatan, itulah saatnya untuk memeriksa ulang data lokasi dengan citra satelit. Jika area tersebut tampak mencurigakan, tim lapangan dikerahkan untuk memverifikasi kondisi di lokasi.
“Sering kali, peringatan itu berupa alarm palsu. Tetapi, jika itu sungguh terjadi, kita harus bertindak cepat,” lanjut Pak Oko. Selama verifikasi, tim mengumpulkan koordinat GPS, foto, dan bukti aktivitas manusia. Mereka mendokumentasikan semuanya, dan informasi ini langsung dimasukkan ke dalam proses verifikasi deforestasi Perusahaan.

Mengambil tindakan: Mengkoordinasikan respons di lapangan
Jika deforestasi telah dipastikan, tim Pak Oko pun segera bekerja dengan cepat. “Kami segera berkoordinasi dengan pemilik kebun atau masyarakat di area tersebut,” jelas beliau. “Jika terjadi di lahan masyarakat, kami melibatkan pemilik lahan dan menjelaskan bahaya pembukaan lahan serta pembakaran lahan tanpa izin,” lanjut beliau. Tim beliau juga menjalin kerja sama erat dengan pemerintah setempat untuk memastikan semua tindakan diambil dengan berpedoman pada hukum yang berlaku.

Dalam kasus yang lebih serius, seperti kebakaran yang tidak terkendali, respons dilakukan dengan cepat. “Jika menemukan kebakaran, kami bertindak cepat untuk memadamkannya, lalu menindaklanjutinya dengan edukasi agar hal itu tidak terjadi lagi,” tambah Pak Oko. Hal itu seperti berpacu dengan waktu, tetapi tim beliau telah terlatih dengan baik untuk menangani keadaan darurat semacam itu.
Keputusan untuk mengambil tindakan korektif atau mengabaikan peringatan yang muncul jika tidak ada ancaman signifikan ditentukan pada temuan dari lapangan. Dalam kasus yang lebih ekstrem, suatu perkebunan dapat berisiko dihapus dari rantai pasok jika gagal mematuhi standar keberlanjutan.
Selangkah lebih maju
Sebelum menutup hari kerjanya, Pak Oko pun menyusun laporan pemantauan terperinci. Tim terkait juga mengawasi aktivitas masyarakat, seperti penyiapan lahan, karena kegiatan itu sering menjadi titik api yang dapat memicu kebakaran di masa mendatang.
Tantangan seperti peraturan yang tidak lagi sesuai perkembangan zaman, yang mengizinkan pembukaan lahan melalui metode pembakaran tradisional, hanya menambah kerumitan dalam pekerjaan Pak Oko. Namun, beliau melihat hal ini sebagai peluang untuk melibatkan peran masyarakat. “Kami melakukan kampanye kesadaran, patroli bersama, dan menawarkan pelatihan tentang pencegahan kebakaran,” demikian beliau menambahkan.

Bagi Pak Oko, pekerjaan beliau tidak pernah selesai. Setiap hari menghadirkan tantangan baru, tetapi beliau tahu bahwa dengan alat yang tepat, kerja sama tim, dan rasa tanggung jawab yang tinggi, beliau dapat melindungi hutan yang berharga ini untuk generasi mendatang.
—–
Jelajahi bagaimana program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) mendukung rantai pasok bebas deforestasi Perusahaan melalui pencegahan kebakaran dan menyediakan infrastruktur pemadam kebakaran di masyarakat yang rawan kebakaran.
—–
Kegiatan Bisnis
Yayasan
Pencapaian
Tata Kelola Perusahaan
Perubahan Iklim
Keberperanan Komunitas
Kemitraan & Keanggotaan
Hak Asasi Manusia & Hak-Hak Pekerja
Pengadaan yang Bertanggung Jawab
Produksi yang Bertanggung Jawab
Sertifikasi
Laporan Keberlanjutan
Oleokimia
Bioenergi
Inovasi Makanan & Nutrisi
Berita Pers
Kisah
Temui Pakar Kami
Dalam Berita
Publikasi
Informasi bagi Pemegang Saham
Keterbukaan Informasi
Informasi Keuangan
Prospek Pemasok
Dukungan bagi Pemasok Sawit
Tanya Jawab
Pemasok Non-Sawit Saat Ini
Sarjana & Profesional
Beasiswa
Magang