menu bar
close-grey

Sains yang berhasil: Memahami solusi bioteknologi di perkebunan kelapa sawit

Posted: Feb 11, 2026 7 minute read SMART 2 Likes

“Bioteknologi seringkali terdengar rumit, tapi pada intinya, bioteknologi bekerja sama dengan alam, bukan melawan alam,” kata Andriessa Prameswara, Production Material Section Head di Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Biotechnology Centre. “Tujuan kami adalah memperkuat tanaman dan tanah sehingga perkebunan selalu produktif dan tangguh dari waktu ke waktu.”

Seiring meningkatnya ekspektasi mengenai keberlanjutan, perkebunan menghadapi menguatnya tekanan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia sambil tetap mempertahankan produktivitas. Dalam konteks inilah bioteknologi pertanian berperan semakin penting. Dari feromon hama yang menarik serangga tertentu, sampai pupuk hayati yang membantu akar menyerap nutrisi tanah lebih efisien, solusi itu menjadi sarana praktis untuk mengelola tantangan pertanian modern.

Bagaimana kinerja solusi bioteknologi ini dalam kondisi nyata di perkebunan? Mengapa pertumbuhannya memakan waktu dalam hitungan tahun, bukan bulan? Dan bagaimana perbedaan penggunaannya dari bahan sintetis konvensional? Bagian berikut akan membahas pertanyaan itu berdasarkan pengalaman lapangan dan wawasan para ahli.

Apa itu bioteknologi pertanian?

Pada dasarnya, bioteknologi pertanian menggunakan proses biologis dan organisme hidup untuk meningkatkan kualitas tanaman, kesuburan tanah, atau pengendalian hama. Bioteknologi pertanian bukan perangkat atau teknologi tunggal, melainkan serangkaian perangkat yang dirancang untuk memelihara tanaman dan ekosistem secara lebih alami dan terpadu.

Dalam budidaya kelapa sawit, bioteknologi biasanya mencakup:

• Mikroba baik yang memudahkan akar tanaman menyerap nutrisi dari tanah,
• Jamur yang membantu menekan pertumbuhan organisme penyebab penyakit,
• Perangkat yang membantu ketepatan penanganan hama.

Solusi ini melengkapi praktik agronomi yang sudah ada, dan berbeda dari input kimiawi dalam beberapa hal penting. Produk kimia bekerja secara luas dan cepat, sedangkan solusi biologis bekerja melalui interaksi dengan tanaman dan tanah. Pengaruhnya berlangsung bertahap seiring waktu dan membantu ketahanan jangka panjang.

Tahukah Anda?

Bioteknologi pertanian mencakup tidak hanya input biologis yang digunakan di lapangan. Bidang ini juga mencakup kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman, pemuliaan molekular untuk meningkatkan sifat tanaman, dan alat diagnostik untuk mendeteksi penyakit serta memahami kinerja tanaman.

Dalam artikel ini kita berfokus pada solusi biologis yang mendukung kesuburan tanah, kontrol hama, dan ketahanan tanaman dalam kondisi perkebunan.

“Produk biologis bekerja melalui interaksi,” jelas Andriessa. “Mikroba yang kami berikan, organisme tanah yang sudah ada, tanaman itu sendiri, dan lingkungan; semua memengaruhi hasilnya. Itulah mengapa aplikasi yang tepat dan kesabaran sangat penting.”

Tiga solusi bioteknologi yang digunakan di perkebunan SMART

Di SMART Biotechnology Centre, penelitian dan kolaborasi lapangan telah menghasilkan tiga inovasi penting yang kini banyak digunakan di perkebunan:


Salah satu ancaman terbesar di banyak perkebunan berasal dari kumbang badak (Oryctes rhinoceros). Alih-alih insektisida spektrum luas, RHINOMAS® memanfaatkan teknologi feromon. Teknologi ini meniru hormon alami yang digunakan kumbang dewasa untuk berkumpul. Feromon tersebut menarik kumbang jantan dan betina ke dalam perangkap, sehingga mengurangi reproduksi secara terarah.

mycormas® mengandung jamur asli Arbuscural Mycorrhizal Fungi (AMF). Jamur ini membentuk hubungan simbiosis dengan akar tanaman. Mereka memperluas jangkauan akar ke dalam tanah dan meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama ketika tanaman menghadapi stres atau keterbatasan nutrisi.

Pada praktiknya, ini berarti pohon kelapa sawit dapat mengakses unsur hara secara lebih efisien dan menjaga kesehatannya dalam berbagai kondisi tanah.

trichomas® adalah biofungisida yang terbuat dari jamur Trichoderma bermanfaat yang diisolasi dari perkebunan kami. Alih-alih membasmi semua mikroba, jamur ini membantu mendominasi zona akar dengan cara menekan patogen dari tanah. Mereka melakukannya dengan memproduksi enzim dan menciptakan keseimbangan biologis yang lebih sehat di sekitar sistem akar.

Bagaimana bioteknologi menjadi solusi yang berhasil

Mewujudkan sebuah konsep menjadi produk yang digunakan di perkebunan adalah perjalanan panjang. Untuk produk biologis, pengembangan biasanya berlangsung selama lima sampai sepuluh tahun. Prosesnya meliputi:

Mengumpulkan kandidat unsur biologis yang menjanjikan dari lahan perkebunan

Mengidentifikasi dan mengoptimalkannya di laboratorium dengan memilih varietas yang stabil dan menyempurnakan formulasinya

Uji kemanjuran dalam lingkungan terkontrol

Uji coba lapangan, bekerja sama dengan pemilik lahan dan mitra penelitian

Mengevaluasi hasil dan menyempurnakan formulasi

Meningkatkan produksi dan mendapatkan persetujuan regulasi

“Pengujian lapangan tetap menjadi bagian yang paling menantang,” lanjut Andriessa. “Kondisi lingkungan bervariasi. Populasi mikroba berbeda dari satu lahan ke lahan lainnya. Dan pengguna terkadang menginginkan hasil yang cepat, padahal efek biologis berkembang secara bertahap.”

Memahami realitas: Bisakah bioteknologi memberikan hasil dalam skala besar?

Solusi biologis sering kali menumbuhkan minat yang diikuti pertanyaan mengenai konsistensi, kecepatan, dan keberhasilan dalam skala besar. Di perkebunan, hasilnya tergantung seberapa baik solusi itu berkinerja pada tanah, iklim, dan kondisi operasional yang berbeda. Berdasarkan penelitian, uji lapangan, dan kolaborasi bertahun-tahun dengan pemilik perkebunan, Andriessa Prameswara berbagi tentang apa yang dibutuhkan bioteknologi pertanian agar dapat berperan lebih luas di luar laboratorium dan memberikan nilai dalam skala besar.

T: Apa yang membuat penerapan solusi bioteknologi dalam skala besar di perkebunan merupakan hal menantang?

Andriessa: Perkebunan adalah sistem yang hidup. Jenis tanah, iklim, populasi mikroba yang ada, dan kondisi tanaman berbeda dari satu kebun ke kebun yang lain. Produk biologis bekerja melalui interaksi antara mikroba yang diperkenalkan, organisme tanah setempat, tanaman, dan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, hasilnya dipengaruhi banyak variabel.

T: Bagaimana Anda memastikan bahwa produk seperti RHINOMAS®, trichomas®, dan mycormas® juga berfungsi di luar laboratorium?

Andriessa: Validasi lapangan adalah inti pekerjaan kami. Pengembangan dimulai dengan mengisolasi kandidat dari lingkungan perkebunan, diikuti optimalisasi laboratorium. Setelah itu, produk menjalani banyak percobaan lapangan melalui kerja sama dengan pemilik perkebunan dan tim riset.

Umpan balik dari percobaan ini menentukan perbaikan lebih lanjut. Setelah pengujian berulang-ulang dalam kondisi nyata perkebunan barulah kami melangkah ke produksi dan penerapan yang lebih luas.

T: Pemilik perkebunan mengharapkan hasil yang cepat. Bagaimana Anda menjawab harapan semacam itu dengan bioteknologi?

Andriessa: Perilaku produk biologis berbeda dari perilaku bahan kimia. Pengaruh produk biologis bertahap, bukan seketika. Perkembangannya memerlukan waktu sampai interaksi dalam tanah dan sistem tanaman stabil.

Mengelola harapan tersebut berarti menjelaskan cara kerja produk dan hasilnya yang realistis. Sebagai contoh, pupuk hayati dapat membantu meningkatkan penyerapan unsur hara dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan kebutuhan akan pupuk kimia.

T: Bisakah bioteknologi mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dalam skala besar?

Andriessa: Bisa, bila digunakan secara benar dan konsisten. Perangkap feromon, misalnya, mengurangi penggunaan insektisida langsung dengan menargetkan hama secara lebih tepat. Mikroba baik membantu meningkatkan kesuburan tanah dan daya tahan tanaman, yang seiring waktu akan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia tertentu.

Sekalipun demikian, bioteknologi berperan paling baik sebagai bagian dari pendekatan agronomi terpadu. Bioteknologi melengkapi praktik konvensional, bukan menggantikannya.

Pertanyaan Umum (FAQ)
1.
Apa itu bioteknologi pertanian dalam perkebunan kelapa sawit?
Bioteknologi pertanian merujuk pada penggunaan ilmu pengetahuan dan sistem biologis untuk meningkatkan cara budidaya, perlindungan, dan keberlanjutan tanaman kelapa sawit. Di perkebunan kelapa sawit, bioteknologi pertanian dapat mencakup perbanyakan dan diagnostik tanaman, serta solusi biologis seperti mikroba baik dan alat pengendalian hama yang ditargetkan untuk mendukung kesehatan tanaman, kesuburan tanah, dan pengendalian hama dalam kondisi nyata di lapangan.
2.
Apa perbedaan bioteknologi dari input kimiawi?

Input biologis bekerja dengan cara mendukung proses alami di tanah dan tanaman, sering kali melalui mikroba baik atau mekanisme yang ditargetkan seperti feromon. Pengaruhnya terbentuk secara bertahap melalui interaksi dengan organisme tanah dan sistem tanaman yang ada.

Sebaliknya, input kimiawi bekerja lebih cepat dan lebih luas. Perannya tetap penting dalam pengelolaan perkebunan yang dibantu oleh input biologis dalam meningkatkan kesehatan tanah dan ketahanan tanaman dari waktu ke waktu. Dalam praktiknya, keduanya digunakan bersama sebagai bagian dari pendekatan agronomi terpadu.

3.
Apa fungsi RHINOMAS®, trichomas®, dan mycormas®?
RHINOMAS® digunakan untuk pengontrolan hama yang ditargetkan melalui perangkat feromon, mycormas® mendukung pertumbuhan akar dan penyerapan unsur hara, sedangkan trichomas® membantu menekan jamur jahat di dalam tanah dan meningkatkan kesehatan akar.
4.
Dapatkah bioteknologi mengurangi penggunaan bahan kimia di perkebunan kelapa sawit?
Bisa. Apabila digunakan dengan tepat, bioteknologi dapat mengurangi pemberian bahan kimia tertentu dengan cara meningkatkan kesehatan tanah, menambah daya tahan tanaman, dan menggunakan pendekatan pengendalian hama yang ditargetkan.
5.
Apakah solusi bioteknologi efektif untuk kondisi tanah dan iklim yang berbeda?
Ya, tetapi hasilnya tergantung aplikasi yang tepat dan kondisi setempat. Jenis tanah, iklim, dan populasi mikroba yang tersedia memengaruhi kinerja solusi bioteknologi, dan itulah mengapa pengujian lapangan yang ekstensif penting dilakukan.
6.
Apakah solusi bioteknologi digunakan hanya pada tanaman kelapa sawit?
Tidak. Banyak pupuk hayati, biofungisida, dan teknologi feromon berpeluang digunakan pada tanaman agrikultura dan hortikultura selain kelapa sawit.

Pada tanggal 19 Februari setiap tahunnya, Hari Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains Internasional mengingatkan kita bahwa sains dibentuk oleh orang-orang di belakangnya.

Di bidang agrikultur, ilmuwan perempuan berperan penting mewujudkan hasil riset menjadi solusi nyata. Melalui peran seperti yang diemban Andriessa, sains digunakan untuk melayani pihak yang paling berkepentingan: petani.

SMART terus mendukung peran perempuan dalam sains yang hasil kerjanya mendukung pertumbuhan agrikultur secara bijaksana dan bertujuan. Baca kisah lain dari kami tentang ilmuwan perempuan dalam aksi mereka.

fb linkedin mail